Dinda rayuan jiwa
Lihat!!!, kuterus berjalan pada lorong hampa
Tanpa persimpangan
Tempat bersinggah
Kosong,
Inikah sebuah epilog
Tidak dinda, kecewa masih meracau
Jadi igauan kicauan berderai
Dinda, senyummu itu abadi dalam kebekuan maha pedih
Takkan terpahami oleh nalurimu tentang rasa menyayat
Tentang tawa renyah patah jelma air bah
Dermagaku runtuh
Setiaku lebur berkeping
Dinda lembut suaramu tika bibir mungilmu teriakiku “jadah!”
Memucak panas bara memanggang ubunubun
Haram takkan kupinta maafku padamu
Walau sekarang redup mata pualammu, berdebu
Menanggung sesal tak berkesudahan
Sumpahku takkan kembali
Sebelum sujudmu jatuh padaku
Cukup! Bukanlah boneka ragaku untukmu
Takkan kutelan ludah yang tumpah
Sudahlah, lekas lindang hapus dari mukaku
Dan ku terus berjalan dalam berserah
Wahai Yang Maha Mendengar
Wahai Yang Maha Pengasih
Wahai Yang Maha Penyayang
Utus malaikat pencatat,
Ini dosa maha dalam,
Telah berpuluh sakit membunuh sakit,
Atas mudarat sumpah berpenyakit,
Telah pula kubunuh anugerah-Mu,
Ialah cinta kasih berkasih, yang katanya adil
Tapi, ternyata hanyalah racun memabukkan
Keindahan semata bunga hitam taman neraka jahanam
Bila ini dosa berbunga
Pisahkan raga dan ruhku
Agar tak berkembang
Utus algojo-Mu
Cabut nyawaku
Agar tak bertambah virus jiwaku
Pelepat, 29 juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar