Di ruangan apak ini
Ada nafas-nafas perkasa
Matanya liar menembus temaram pelita kerdil
Berselancar bibir meracau
Mengeja aksara demi aksara bangku sekolah
Yang ia copy dari papan tulis
Dari sebuah gedung sekolah yang tua
Sesekali ia bermain pula
Pada halaman-halaman surat kabar lusuh
Yang ia pungut di pinggir jalan
Ingin mengintip dunia katanya
Ingin melihat kisah-kisah terkini
Meski para lakon tak berubah
Masih para tauke pembeli kursi mewah
Riang bernyanyi pembebasan
Ada juga pak tani
Masih setia pada perlengkapan pertanian
Warisan termahal para leluhur
Panen raya adalah mimpinya
Yang sesaat menjelma mimpi buruk
Wabah impor menjadi hama
Lesu
Juga ada buruh dan kaum jalanan
Artis yang diidamkan para algojo metropolis
Artis yang diidamkan para algojo metropolis
Minta tanda tangan dalam ruangan pengap
Pencemaran mata harus diobati, katanya
Ah, berat nafasnya dibalik senyum
Besok, akukan jadi apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar