Bahwa langitmu baru saja cerah
Dari mendung dan kabut merusak mata
Rancak bianglala menghias bibir cakrawala
Sirna, kala gerhana membunuh bulan sabit
Pekat malam mengigil yang basah
Resah memeluk gundah
Sekuntum mawar tidak lagi harum semerbak
Tercabut paksa dari taman hati
Saat berpuluh kumbang terbang merapat
Hinggap ikut menikmati harum yang mengusik
Sungguh klasik ceritera terurai
Bahwa taman ini tidak lebih indah
Layaknya taman di kerajaan langit
Intan berlian menjadi penghias setiap pagar pelindung
Serta mengalun kidung merdu asmara
Anggun kelopak bermekaran
Menghiasi singgasana
Teriakan resah hanyalah gema di palung jiwa
Hingga parau suara tak terdengar
Karena lidah dingin membatu
“Aku sayang kamu!”
Tiga kata menembus langit
Tidak juga sampai
Apalagi terurai menjadi butiran penyejuk
Hanya ada sakit tersisa memeluk angan
Tercekik harapan menyumbat kerongkongan
Senyuman terjerat fatamorgana
Peluk dan kecupan mesra cuma menjadi uap
Mengkristal di udara kenangan
Berbalik memukul, menerjang, menghantam
Ripuk batin tersandar
Hancur lebur segala cipta rasa
Bukanlah emosi terurai
Bukanlah egois bernyanyi merdu
Bukanlah kejuran membuih kebohongan
Kononlah pengadian tak terlukis
Bila sketsa senyuman bermata belati
Pembantaian rasa
Sesal berkalang rindu bertahta kesumat
Duh! Taman keindahan jiwa diterpa badai
Ketulusan terhalang silaunya kesangsian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar